Ogos 2013







Hendaklah Berlaku Adil dan Berbuatlah dengan Berimbang dan Adil - Yang berarti Dekat pada Taqwa; Allah Taala pun akan memberkati kehidupan Saudara, keluarga dan Istri serta Anak-anak Saudara; dan juga untuk Kesejahteraan Rakyat keseluruhannya.

Nasihat penting kepada Pemimpin Negara dan Pemimpin Keluarga. Agar maqbullah doa Saudara dan dikabulkan-Nya doa-doa orang yang berdoa dan yang mendoakan Saudara.
Wa laqad taqrabuu maal yatiimi illaa bil latii hiya ahsanu hatta yablugha asyuddahuu wa auful kaila wal miizaana bil qisthi laa nukallifu nafsan illa wus'ahaa wa idzaa qultum fa'diluu wa lau dzaa qurbaa wa bi'ahdillaahi aufuu dzaalikum washshaakum bihii la'allakum tadzakkaruun (Al An'aam, 6:153).

"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik sampai ia mencapai kedewasaannya. Dan penuhilah ukuran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memberi beban kepada suatu jiwa kecuali menurut kemampuannya. Dan apabila kamu berkata, hendaklah berlaku adil walaupun itu berkaitandengan seorang kerabat; dan sempurnakanlah janji dengan Allah. Demikianlah Dia, Allah telah memerintahkan kepada kamu perihal itu supaya kamu mendapat nasihat".

Ya yyuhal ladziina aamanuu kuunuu qawwaamiinal lillaahi syuhadaa-a bil qisthi wa laa jajrimannakum syana-aanu qaimin 'alaa alaa ta'diluu huwa aqrabu lit taqwaa inal laaha khabirun bi maa ta'maluun (Al-Ma'idah, 5:9).

Hai orang-orang yang beriman, hendklah kamu berdiri teguh karena Allah, menjadi saksi dengan adil; adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Seungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan. 

Tentang keharusan berbuat dan berlaku adil ini bacalah juga firman Tuhan lainnya:
An-Nisaa, 4:59, ...... apabila kamu menghakimi di antara manusia, hendaklah kamu memutuskannya dengan adil .......
An Nahl, 16:91 ...... Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebaikan dan memberi kepada kaum kerabat, dan melarang .......
Shad, 38:27, Hai Daud, ....... hakimilah di antara manusia dengan adil .......
Asy-Syuura, 42:16, ....... aku diperintahkan untuk berbuat adil di antara kamu .......

Dengan janji ganjaran ari pada-Nya:
Wa 'adallaahul ladziinaaamanuu wa 'amilush shaalihaati lahum maghfiratuw wa ajrun 'azhiim (Al Maa'idah, 5:9).
Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, bagi mereka ada ampunan dan ganjaran yang besar.
Jadi bilamana orang tuanya (dan termasuk mertuanya juga) sudah banyak-banyak berdoa dan mendoakan bagi anak-anaknya tetapi masih dirasakan belum maqbul juga, belum dikabulkan sepenuhnya oleh Allah Yang Maha Kuasa, maka bisa jadi orang yang didoakannya itu belum dapat berlaku adil, belum dapat berbuat adil kepada seluruh keluarga dan kerabatnya. Padahal dengan suatu pernikahan itu, ini contohnya, maka mereka sekarang berada dalam satu keluarga yang lebih besar; ibunya sekarang menjadi dua, bapaknya pun dua, kakak-kakak dan adiknya menjadi dobble, sehingga yang harus diperhatikannya itu bertambah banyak, dan keadilan atau perimbangan itulah yang harus diperhatikan, walaupun tidak harus persis sama, satu dengan satu, atau dua dengan dua - tetapi berimbanglah sedapat mungkinnya -. Perbuatan semacam begitulah yang dikatakan sebagai dekat kepada takwa, dekat kepada Allah Taala dan takut kepada Tuhan, sehingga Allah pun akan ridha kepadanya, kepada keluarganya, dan insya Allah akan terkabullah doa-doa dan keinginannya, serta doa-doa dan keinginan yang baik dari orang tua yang mendoakannya itu.

Bilamana seorang suami itu adalah Pemimpin dalam satu keluarga kecil, maka demikian pulalah seharusnya para Pemimpin sebuah Negara, yang harus dapat berbuat adil dan menjaga keadilan di antara rakyatnya, sehingga kesejahteraan itu akan dapat dinikmati oleh segenap rakyat dan bangsa.

Syarat lain untuk maqbulnya doa ialah bahwa baik orang yang berdoa dan juga orang yang didoakannya itu, harus menghindarkan diri dari sifat yang tidak diridhai Tuhan, seperti perasaan curiga dan buruk sangka, perasaan iri hati, greedy, rasa dipilih kasih,seperti umpamanya terhadap apa yang dimiliki oleh otang tuanya. Sifat-sifat demikian dapat juga menjadi penyebab belum terkabulnya doa-doanya, dan doa-doa dari orang yang mendoakannya.

Ada satu contoh nyata ilustrasi dari satu keluarga dekat kami; suami-istri keduanya merupakan keluarga pengusaha menengah - interpreneur, istrinya Islamy tulen, suaminya hanya 10-15% Islamy (seperti jarang shalat dll), yang dapat dikatakan suksesjuga. Anak-anaknya 4 perempuan dan 2 laki-laki, yang merupakan keponakan kami, semuanya dididik dan dibina dan dibantu menyadi pengusaha, tetapi tidak disuruh mengejar gelar sarjana. Akhirnya mereka semua menikah dan juga semuanya tidak mendapatkan pasangan yang sarjana penuh.

Yang membuat saya keheranan ialah bahwa selama ibu-bapaknya itu masih hidup, mereka, anak-anak dan menantunya itu, dalam usaha dan perusahaannya tidak begitu sukses, bahkan boleh dikatakan banyak babak-belurnya. Saya yakin, bahwa ibunya yang mukhlis itu tentu sudah banyak mendoakan dan membantu anak-anaknya itu, tetapi sebegitulah keadaannya.

Namun setelah ibunya tiada (tahun 1997), kemudian setelah bapaknya juga menyusul (tahun 2001), eh tahu-tahu hampir semua anak-anak ini maju pesat di dalam usaha dan bisnisnya; inilah yang membuat saya heran, mengapa? Ada yang dalam usahanya itu memperkerjakan 60 orang karyawan, dengan 4 orang Dokter, padahal Bossnya khan bukan sarjana? Bahkan omzetnya bisa mencapai Rp. 600 juta/ bulannya???

Jawabannya baru terungkap sekarang, ilmu ini didapatkan pada awalJanuari tahun 2009 ini, dengan mendasarkan pada firman Tuhan dalam Surat Al Qashah (28:56):

Innaka laa tahdii man ahbabta walaakinnallaaha may ysyaa-u wa huwa a'lamu bil muhtadiin.
Sesungguhnya engkau (Nabi saw. dan para pengikutnya juga) tidak dapat memberi petunjuk (termasuk mendoakan) kepada siapa yang engkau kasihi - yang engkau sukai dan cintai - tetapi Allah memberi petunjuk - untuk kesuksesannya - kepada sia yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui siapa orang-oang yang mendapat petunjuk itu.

Maka bisa jadi, selama orang-tuanya itu masih hidup, yang tentu saja memiliki harta kekayaan dan aset perusahaan; nah jika pada anak-anaknya itu terdapat sifat greedy, hasud, cemburu, buruk sangka, iri satu sama lain, atau merasa dipilih kasih, serta merasa di-zhalimi dan/atau ada sifat membangkang dan menentang pada ortunya, maka inilah yang dapat membuat mereka itu jauh dari Tuhan. Tetapi, setelah kedua orang tuanya itu meninggal, dan semua harta dan set perushaannya sudah dibagi-bagi, maka perasaan buruk sngka kepada orang tuanya itu pasti tidak ada lagi, dan tidak ada lagi yang mengincar harta ortunya. Maka dengan berbekal inilah, kemudian mereka berjuang sendiri-sendiri, menjalankan usahanya dengan serius dan sudah tidak mengandalkan bantuan dari ortunya sendiri, sehingga memperoleh sukses yang besaaaar.
Tetapi, inihanyalah teori dari saya saja.

Teapai itulah fakta kenyataannya, yang kadang-kadang membuat perasaan hampir putus asa, mengapa sebagai ortu itu, yang sudah bertahun-tahun berdoa, dalam tahajjud juga, dengan berpuasa juga, namuuun ....... hanya sedemikianlah keadaannya .....

Jadi, barangkali itulah rahasianya!

Lihat juga ayat-ayat yang berkaiatan dengan kemakbulan doa dan petunjuk bagi orang-orang yang kita kasihi dalam Surah-surah:

Yusuf, 12:103, Dan kebanyakan orang tidak mau beriman, walaupun engkau menginginkannya (dan mendoakannya).

An Nahl, 16:37, Jika engkau sangat berhasrat supaya mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang menyeleweng - dari jalan yang diridhai Allah - dan, yang bagimereka itu tidak ada penolong.

BY marsela

by marsela


Bismillahirrahmanirrahiim

ULAMA versus NABI ALLAH, apakah karena “IRI”. Ini perlu dibuktikan!
Sesuai do’a keinginan Nabi Ibrahim a.s. (QS 2:129) agar dari keturunan Nabi Ismail diturunkan seorang Nabi, yang akan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah, serta mensucikan mereka.

Doa tadi adalah bahwa agar seorang Nabi didatangkan untuk mengajarkan kepada orang-orang tentang kebijaksanaan dan hikmah, yang Nabi itu akan datang untuk menegakkan keadilan dan mengajarkan kepada orang-orang untuk berlaku adil dan berbuat keadilan, serta mensucikan diri mereka, rohani dan zahirnya..

Ulama yang pemimpin agama memang bisa dan biasa mengajarkan kepada umat tentang Al-Qur’an dan Hadits, tetapi untuk mengajarkan hikmah, kebijaksanaan untuk berbuat adil dan menegakkan keadilan inilah yang harus dibuktikan oleh amalan mereka, namun yang jelas Allah SWT secara khusus menugaskan ini kepada Nabi yang utusan-Nya, dan tidak menyebutkan ulama secara umum begitu saja untuk tugas membina spiritual dan kesucian rohaniah terutamanya. Orang yang punya sifat iri, dengki suka memusuhi orang, berburuk sangka, akan jauh dari kesucian dirinya sendiri.

Demikian juga di dalam Surah An-Nisaa ayat 69 dengan secara jelas bahwa ada janji Tuhan untuk menunjukkan jalan yang lurus kepada orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad saw. itu dengan hasil ada 4 macam derajat kenikmatan yang dapat diraih oleh orang-orang yang taat ini yaitu: Nabi-nabi, para Shiddiqin, para Syuhada dan orang-orang yang shaleh. Maka ulama pun, hanya yang dapat masuk ke dalam ke-4 kategori derajat inilah, seperti, setidaknya menjadi orang yang shaleh, maka ia pun akan dianggap mampu bisa membimbing orang-orang ke jalan yang lurus, dengan kualifikasi mampu mengajarkan Al-Qur’an, Hadits, mengikuti Sunnah Nabi saw. dan bisa berbuat adil, bisa mengajarkan keadilan dan punya rasa kebijaksanaan, bisa mengajarkan hikmah, punya kualifikasi untuk bisa mengajak orang-orang pada kesucian dirinya.
Orang berilmu, ulama, ialah orang yang takut, taat kepada Allah (35:28), sehingga dapat masuk kategori 4:69.

ULAMA melawan setiap NABI ALLAH, itu sudah ditakdirkan dalam sejarah, karena “IRI”. 
Nabi Isa, Jesus Kristus a.s. yang Utusan Allah pun di-zhalimi oleh ulama-ulama orang Yahudi karena merasa iri atas kemasyhuran dan banyak mukjizat yang diperlihatkan oleh Nabi Isa a.s.; Nabi Isa a.s. diadukan ke hadapan Pengadilan Roma secara dipaksakan untuk dihukum salib karena dituduh hendak mendirikan Kerajaan (Kerajaan Tuhan), sehingga Hakim Pilatus pun cuci tangan, tidak turut campur dengan kehendak atau pemaksaan ulama untuk menyalib Nabi Allah ini.









Sepertimana yang telah diperkatakan sebelum ini bahawa proses kebangkitan Islam yang dijanjikan oleh Allah swt sering terhambat disebabkan oleh perbuatan umat Islam sendiri. Ada sesuatu yang dibenci oleh Allah swt, di antaranya adalah perpecahan dan permusuhan sesama umat Islam. Kesalahan ini merupakan antara dosa yang telah dan sedang menimbulkan kemurkaan Allah swt yang amat besar. Umat Islam hari ini mempunyai amalan keji yang amat tidak disukai Allah swt seperti amalan dusta dan fitnah serta kekerasan bagi tujuan menjatuhkan saudara seagamanya. Disamping itu, sebilangan umat Islam begitu mudah menggunakan kata-kata menyesat dan mengkafirkan kelompok Islam yang lain jika pendapat dan pandangan pihak lain tidak selari dengan pendapat dan pandangan mereka. Bagi memperkukuhkan dakwaan tersebut pelbagai fitnah direka-rekakan. Islam memandang keji terhadap fitnah memfitnah sehingga mengumpamakan dosa memfitnah itu lebih merbahaya daripada perbuatan membunuh, “... dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan...” (Al Baqarah : 192).

Sememangnya fitnah memfitnah merupakan senjata yang paling kotor kerana kemampuannya mengakibatkan pergaduhan, pembunuhan dan  kerosakan yang tidak disenangi oleh Allah swt. Malah Nabi Muhammad saw juga pernah bersabda bahawadusta adalah ibu kepada kejahatan kerana satu dusta akan melahirkan lebih banyak dusta untuk menutupi dusta-dusta yang sebelumnya. Ini adalah di antara dosa-dosa umat Islam yang telah menimbulkan kemurkaan Allah swt kerana menyuburkan kebencian, prasangka buruk, permusuhan, ketidakadilan, penganiayaan dan kezaliman sesama Islam. Dosa ini yang menyebabkan permusuhan sesama Islam menjadi semakin besar dan telah menghalang umat Islam daripada bersatu, pada hal ajaran Islam telah meruntuhkan semua tembok pemisah bagi membentuk ukhuwah Islamiyah. Atas dasar itu, Allah swt memberi pelbagai perintah dan peringatan kepada umat Islam untuk menyelamatkan mereka daripada permusuhan sesama sendiri dan mengelakkan orang Islam menjadi pengikut kepada golongan yang dimurkai Allah swt.


Seorang pemimpin wajib menyedari bahawa segala tanggungjawab yang dilaksanakannya bagi sebuah negara Islam adalah tertakluk kepada roh keislaman dan dia mesti berani menerapkan perlaksanaannya dalam semua institusi pemerintahan dan pentadbiran. Pemerintah yang diamanahkan kuasa kepadanya bertanggungjawab memastikan keamanan dapat dinikmati oleh rakyatnya. Agama Islam telah menetapkan pemimpin sebuah negara adalah sama seperti seorang pengembala yang mampu melindungi dan menjaga seluruh binatang ternakannya dari segala macam musibah dan bahaya, serta mampu menyediakan segala keperluan bagi menjamin kesejahteraan binatang ternakannya. Pengembala yang baik memastikan ternakannya tidak merayau-rayau tidak tentu arah, melindunginya dari ancaman serigala, memberi makanan dan kandang yang secukupnya dan melindunginya daripada wabak penyakit. Analogi seorang pemimpin dalam sesebuah negara Islam adalah seperti seorang pengembala yang menjamin seluruh rakyatnya bebas dari konflik, huru hara, gangguan dan penindasan, selamat dari ancaman dan serangan dari luar, menyediakan segala keperluan intelektual dan material. Untuk memastikan kemampuan seorang pemimpin benar-benar memenuhi kriteria seperti seorang pengembala dengan komitmen yang tinggi, Al Qur’an telah menetapkan garis panduan yang wajib dipatuhi dan disempurnakan.

Tidak pula kurang pentingnya, seorang pemimpin mestilah berjiwa rakyat dan rendah hati sepertimana yang dipercontohkan oleh Hazrat Umar ra. Dalam satu kejadian Hazrat Umar ra semasa era kekhalifahan beliau secara kebetulan melihat seorang ibu bersama tiga orang anak di luar kota Madinah tidak mempunyai bahan makanan selama dua hari. Dengan segera Hazrat Umar ra kembali ke Madinah untuk mengambil bahan keperluan makanan dengan memikulnya sendiri untuk diberikan kepada ibu tersebut. Seorang hamba memprotes agar dia sendiri yang memikul bahan makanan tersebut tetapi Hazrat Umar ra menolak sambil berkata, “Tidak dapat dinafikan engkau memang boleh mengangkat barang-barang ini tetapi siapa yang akan mengangkat beban saya di hari akhirat kelak?” Selanjutnya Hazrat Umar ra memikul bahan makanan itu sendiri dan memberikannya kepada ibu berkenaan sambil ibu tadi mengucapkan syukur di atas kebaikannya dan berkata, “Engkau lebih sesuai menjadi khalifah daripada Umar, dia tidak tahu tentang keperluan rakyatnya.” Hazrat Umar ra menjawab dengan lembut dan senyuman, “Baiklah ibu, mungkin Umar tidaklah seburuk seperti yang ibu sangkakan”. Masih adakah seorang pemimpin muslim seperti Umar ra?